Saturday, February 10, 2018

Kedipan Mata

Mata gue yang tadinya memandang gedung fisik berlantai 3 itu pun berkedip. Leher dan kepala menoleh ke arah kiri berlawanan dengan gedung putih itu. Dan ketika kedua bola mata terbuka, gue sudah berada di tempat yang berbeda, di waktu yang berbeda, duduk di kursi menatapi layar laptop, sambil berhadap umur gue yang  sudah beranjak 21 tahun ini akan terasa selama-lamanya.
***

Sejauh mata memandang dipenuhi oleh angkot dan kendaraan roda dua yang membuat jalan raya penuh sesak. Gue yang berada di dalam taksi hanya bisa melamun dan melihat kendaraan lain di luar jendela, satu per satu bergerak secara perlahan. Di samping gue, ada ibu yang sedang asyik memainkan handphone-nya. Entah memang asyik atau karena perjalanan ini sangat membosankan hanya handphone yang dapat menolong kebosanannya.

Sebuah pengalaman 3 tahun yang lalu, ketika gue pergi untuk mendaftarkan diri menjadi mahasiswa disalah satu universitas swasta di Jakarta Barat. Setelah gue officially menjadi mahasiswa, semua momen berlalu super cepat. Momen ospek MABA (mahasiswa baru) berlalu begitu cepat, momen menjadi anak kostan telah dilewatkan secepat kilat, dan momen menjadi mahasiswa semester satu hingga semester lima terlewatkan seperti kedipan mata. Sampai pada akhirnya, di tahun 2018 ini, gue akan masuk ke dunia permagangan.

Oh, betapa cepatnya waktu berlalu. Gue jadi inget dulu, ketika gue masih di Jepang, gue mempunyai tempat 'tongkrongan' bernama Shibuya. Shibuya adalah sebuah daerah di Tokyo yang biasanya dikunjungi oleh anak-anak gaul Jepang. Widih.
Gue ke Shibuya bukan karena gue gaul, melainkan daerahnya dekat banget sama rumah gue, hehehehe.

Dengan jarak hanya 4 kilometer dari rumah, gue dapat meraih tempat gaul ini hanya dengan menggunakan sepeda atau kereta umum kalau sedang hujan. Di sana, banyak sekali remaja ABG hingga orang kantoran berlalu-lalang, menyebrangi persimpangan yang sangat terkenal di dunia, Shibuya Crossing. Sebuah penyebrangan yang cukup besar dan sangat instagram-able untuk dipamerkan kepada temen-temen. Walaupun dominan anak-anak ABG, tidak sedikit juga turis-turis yang berkunjung. Seringkali juga gue lihat anak-anak sekolahan yang mampir ke Shibuya sehabis sekolah atau bahkan menjadikan Shibuya menjadi tempat mereka cabut dari kelas. Kalau gue, sih, gak pernah cabut kelas ke Shibuya, karena bukan anak gaul.

Gue sangat suka tempat ini karena asyik untuk dijadikan tempat jalan-jalan santai, hangout sama temen-temen. Banyak toko-toko yang tersebar di Shibuya mulai dari toko musik, restaurant-restaurant-ABG-banget seperti McDonald's, Saizeriya, Moss Burger, hingga toko baju ternama seperti Zara, H&M, dan Forever 21.

By the way, di tahun 2012, ketika itu gue belum pernah dengar ada toko outlet bernama Forever 21. Sampai akhirnya gue dipertemukan dengan outlet tersebut ketika gue pindah ke Tokyo. Saat itu, gue yang seorang anak ABG culun berumur 16 tahun, memandang sebuah gedung fisik 3 lantai berwarna putih dengan judul besar terpampang, 'Forever 21'. 

"Forever 21?" saut gue dalam hati. 

"Si pembuat outlet ini pasti punya masa keemasannya di umur segitu..." lanjut gue.

"Umur 21... Please don't come fast... " tutup gue. Bisa tebak apa yang gue lakukan setelah bengong, meratapi gedung Forever 21? Yep, gue mengedipkan mata.

No comments:

Post a Comment